by Nay Beiskara
Kampus memang tempatnya
menimba ilmu dan pastinya tempat tuk meraih prestasi. Baik itu prestasi
akademik maupun non akademik. Oleh karena itu, banyak sekali mahasiswa yang
berlomba-lomba untuk ikut dalam berbagai kompetisi, baik yang di adakan di
internal kampus semisal mengikuti lomba karya tulis ilmiah, Mapres (Mahasiswa
Berprestasi) dan lomba debat maupun yang diadakan eksternal kampus, semisal
lomba yang diadakan oleh Dikti, kampus lain ataupun Institusi pendidikan
lainnya. Dan ternyata tidak sedikit dari teman-teman kampus yang berhasil
menjadi juara dalam kompetisi semacam itu lho... Apa kamu salah satunya?
Namun dewasa ini, banyak
dari kita yang menganggap bahwa prestasi itu hanya sebatas nilai yang tinggi, IPK
(Indeks Prestasi Kumulatif) yang tinggi, dan mampu meraih penghargaan pada
kompetisi tertentu, betul ga? Padahal tidak semua yang berprestasi bisa diukur
dari nilai alias angka di atas kertas lho. Banyak orang yang sudah
membuktikannya. Kadangkala kita menemui ada mahasiswa yang pada saat kuliah dia
mendapatkan nilai yang biasa-biasa saja, IPKnya dua koma alhamdulillah, namun
ketika dia selesai kuliah dan terjun ke dunia bisnis dia menjadi orang yang
berhasil. Ada pula orang yang pada saat kuliah dia terkenal cerdas, selalu
mendapatkan nilai tertinggi, dan IPK cumlaude, namun dia hanya bisa menjadi
seorang bawahan yang prestasi kerjanya biasa saja.
Selain itu, kita juga
banyak sekali menemukan orang yang cerdas memiliki peringkat tertinggi di
kelasnya, tetapi dia sombong dan tidak mau berbagi ilmu dengan temannya yang
lain. Dengan kata lain kecerdasan dan prestasi tidak berbanding lurus dengan
kualitas moral yang baik. Nah kalau begitu, apa sih sejatinya makna prestasi?
Dan bagaimanakah mahasiswa yang berprestasi itu?
Prestasi secara umum bisa
diartikan sebagai hasil belajar, mempelajari, dan memahami segala sesuatu. Ada
juga yang mengartikan sebagai hasil capai kesuksesan yang kita peroleh dari
usaha yang kita lakukan dalam meraih sesuatu. Sedangkan mahasiswa berprestasi
disebutkan dalam panduan pemilihan mahasiswa berprestasi yang dikeluarkan oleh
Komisi Pendidikan Nasional, berarti mahasiswa yang berhasil mencapai prestasi
tinggi, baik akademik maupun non akademik, mampu berkomunikasi dengan bahasa
Indonesia dan bahasa Inggris, dan bersikap positif. Sebagai contoh, seorang
mahasiswa yang belajar dengan bersungguh-sungguh ketika akan menghadapi ujian hingga
akhirnya mendapatkan hasil yang terbaik. Contoh lain saat seorang mahasiswa
mempresentasikan karya tulisnya. Kemudian dia berhasil memenangkan kompetisi
karya tulis ilmiah tersebut. Itulah beberapa contoh arti prestasi dan mahasiswa
yang berprestasi secara sederhana. Namun, apakah sudah cukup?
Prestasi sebagai hasil
belajar dan memahami sesuatu mengandung arti apa yang telah dipelajari dan
dipahami itu berpengaruh dalam sikapnya seperti peribahasa padi yang semakin
berumur semakin merunduk dan yang tidak kalah penting adalah bermanfaat bagi
orang-orang yang ada di sekitarnya. Pertanyaan selanjutnya adalah cukupkah kita
ketika sudah dikatakan berprestasi di mata manusia? Jawabannya pasti tidak.
Sebagai seorang muslim yang kebetulan mahasiswa, tentunya berprestasi di
hadapan Allah Sang Pencipta Manusia dan berhasil meraih keridhoan-Nya adalah
dambaan dan tujuan semua muslim. Allah sendiri telah berfirman dalam Quran
Surat Ali Imran [110]: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk
manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman
kepada Allah. Sekiranya Ahhli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi
mereka, diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah
orang-orang fasik”
Allah telah memberikan
kita kaum muslim predikat sebagai umat yang terbaik. Umat yang berprestasi.
Bukan hanya berprestasi di dunia tetapi juga untuk akhirat. Rasulullah pun
sebagai teladan kita adalah sosok yang sangat mencintai prestasi. Dalam setiap
perbuatan yang Rasulullah lakukan sangat terjaga mutunya dan mempesona
kualitasnya. Misalnya shalat yang beliau lakukan adalah shalat yang prestatif
artinya sangat menjaga kekhusyuannya. Belum lagi dalam masalah strategi perang
dan pengurusan rakyat Madinah kala itu. Para sahabat yang notabenenya hasil
pembinaan Rasul juga memiliki prestasi yang gemilang. Sebut saja Mushab Bin
Umair yang diutus Rasul untuk mengajarkan Islam di Madinah. Hanya dalam waktu
satu tahun, Mushab mampu membuat opini Islam menyebar di seluruh Madinah hingga
dikatakan tidak satupun rumah di sana yang tidak membicarakan Islam dan
Rasulullah. Dan mungkin kita masih ingat Muhammad Al Fatih yang mampu
menaklukkan Kota Konstantinopel pada saat beliau berusia 21 tahun, beliau dan
pasukannya mendapatkan predikat sebagai pemimpin dan pasukan terbaik.
Rasulullah dan para
sahabat sudah memberikan kita cukup bukti bagaimana dalam setiap perbuatan yang
dilakukan, beliau-beliau mampu melahirkan prestasi dengan tidak meninggalkan
aspek tujuan dan kualitas/mutu dari perbuatan. Artinya setiap perbuatan jelas
tujuannya dan langkah-langkah agar tujuannya tercapai juga jelas. Sedang
motivasi yang ada hanyalah motivasi ruhiyah yang berasaskan aqidah Islam. Sudah
sunnatullahnya bahwa orang-orang yang mendapatkan predikat terbaik adalah
mereka yang paling berkualitas dalam amal perbuatannya. Baik dalam urusan dunia
maupun akhirat.
Begitulah gambaran
Muslim prestatif. Dia tidak hanya mencukupkan diri berprestasi di hadapan manusia,
tetapi juga berusaha untuk berprestasi di hadapan Allah. Nah, bila kita ingin
menjadi muslim dan mahasiswa yang berprestasi, berarti kita tidak boleh
mencukupkan diri hanya dengan mendapatkan peringkat tertinggi, IPK terbaik, dan
predikat memuaskan, tetapi juga harus berprestasi di mata Allah. Bagaimana
caranya? Belajar adalah kuncinya. Bukan hanya mempelajari ilmu pengetahuan dan
teknologi, tetapi juga mempelajari Islam, mendalami Islam, melaksanakan Islam
dalam kehidupan, dan menyebarkan Islam. Insya Allah, kesejahteraan di dunia dan
keridhoan-Nya pun akan kita dapatkan. Wallahu a'lam Bish showwab.


0 comments:
Post a Comment