Monday, 26 March 2012


Ideological Switch
[Isniani Muftiarsari, S.Si.]

Ada sebuah pertanyaan menarik. Mungkinkah terbentuk seseorang yang bertaqwa dan berideologi Islam dari sistem kapitalisme saat ini? Kita sama-sama tahu bahwa suatu sistem kehidupan, yang lahir dari ideologi tertentu, akan melahirkan orang-orang yang menganut ideologi tersebut dan memiliki kepribadian yang sejenis. Sistem Islam akan melahirkan muslim-muslim yang berideologi Islam, dengan akidah yang mengakar kuat, kepribadian yang luhur, senantiasa berperilaku sesuai dengan hukum syara, bahkan menjadi pembela-pembela ideologi Islam. Pun dengan sistem Kapitalisme, akan melahirkan diri-diri yang serba materialistis, dengan pemikiran liberal dan pragmatis, bahkan mungkin menjadi pejuang-pejuangnya dimanapun dia berada.

Pertanyaan di atas muncul ketika umat Islam di dunia ini hidup bukan di dalam sistem Islam, melainkan Kapitalisme. Beragam pemikiran asing sudah mengalir dalam darah kaum muslimin, dari hal terkecil dalam masalah individu, hingga hal terbesar dalam perkara negara. Jangankan menjadi penganut taat, mereka tak lagi mengenali Islam itu sendiri. Semuanya bercampur aduk. Nah, lantas apa mungkin, dalam kondisi seperti ini, bisa lahir muslim dengan kualitas seperti layaknya dia hidup dalam sistem Islam?


Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin menceritakan sesuatu. Di dalam tumbuhan, terdapat suatu proses pembentukan sel kelamin jantan, yang disebut mikrosporogenesis. Dari proses inilah akan terbentuk polen, atau serbuk sari yang biasa kita jumpai pada bunga. Secara normal, sel induk polen akan mengalami dua kali meiosis dan membentuk empat sel mikrospora. Masing-masing mikrospora ini akan membelah secara mitosis sebanyak dua kali. Mitosis pertama menghasilkan dua sel, vegetatif dan generatif. Pada mitosis kedua, hanya sel generatif yang membelah menjadi dua sel sperma, sementara sel vegetatif berperan dalam memastikan sel sperma dapat melakukan fertilisasi/pembuahan. Mekanisme ini pasti terjadi, dengan regulasi gen tertentu, pada tumbuhan. Jika tidak, tentunya tidak akan kita temukan buah-buahan sebagai hasil fertilisasi ini. Selanjutnya, semua pasti mengetahui biji ddari buah-buahan ini jika ditanam akan menghasilkan tanaman yang baru.

Lantas apa hubungannya dengan pertanyaan di awal tulisan tadi?

Manusia kemudian menemukan suatu mekanisme lain yang unik, yaituAndrogenic Switch. Proses ini membelokkan jalur perkembangan mikrospora pada mitosis pertama, yang seharusnya menjadi dua sel yakni vegetatif dan generatif, menjadi dua sel vegetatif saja. Setelah itu, mereka mengalami mitosis lagi dan lagi sehingga menjadi multiseluler, akhirnya menjadi embrio. Embrio ini akan berkembang menjadi tanaman tersendiri, yaitu tanaman haploid yang mempunyai jumlah kromosom setengah dari tanaman normal (sepertinya hal ini tidak perlu dibahas lebih lanjut, tetapi tanaman haploid ini sangat penting dalam pembentukan benih unggul tanaman). Pada akhirnya kedua proses ini, baik mikrosporogenesis dan androgenesis, akan menghasilkan tanaman yang sama, meski berbeda sifat.

Sama saja dengan pembentukan kepribadian seseorang. Secara “normal”, hanya orang-orang yang serba liberal kapitalistik yang akan lahir dari sistem Kapitalisme. Tetapi, dapat lahir pula muslim-muslim yang taat, mengemban ideologi Islam, termasuk menjadi garda terdepan perjuangan penerapan sistem Islam. Di sini terjadi Ideological Switch. Bagaimana mungkin?

Androgenic Switch dipicu oleh cekaman, baik berupa cekaman suhu di atas dan bawah normal, senyawa kimia, tekanan osmotik, dan sebagainya. Setelah itu, karena proses ini membutuhkan kerja laboratorium, perlakuan lain diberikan pada bunga jantan atau bagiannya, yakni dengan kultur jaringan, untuk meningkatkan kadar induksi androgenesis sekaligus memastikannya tumbuh dan berkembang menjadi tanaman. Dapat diberikan senyawa organik, hormon, perlakuan suhu lagi, dan lain-lain, serta dipelihara pada kondisi tertentu. (Sekali lagi, pembahasan ini dapat terlalu mendalam dan agak menyulitkan bagi yang tidak pernah atau jarang mempelajari biologi tumbuhan). Begitu pula Ideological Switch, tidak mungkin terjadi jika muslim-muslim yang terjebak dalam sistem Kapitalisme sejak lahir, tidak menjalani “cekaman” berupa pemikiran rasional yang cemerlang tentang kehidupan, untuk menganut ideologi Islam. Tidak mungkin pula terbentuk menjadi para pengembannya, jika tidak “terpelihara” secara keimanan dan pemikiran.

Jadi, jawabannya adalah SANGAT MUNGKIN. Oleh karena itulah, penting bagi para pengemban dakwah Islam ideologis untuk terus menularkan “cekaman” pada kaum muslimin. Kemudian benar-benar menjaga ideologi ini tetap terinternalisasi dalam diri kita dan jamaah. Hal ini adalah perkara yang tidak dapat ditawar-tawar karena kita tentu ingin mewujudkan sistem Islam dalam kehidupan kita. Sehingga kita pun tidak perlu bersusah payah, membanting tulang, memeras keringat, mengorbankan pikiran, tenaga, harta, bahkan jiwa (terlepas dari bahwa perjuangan tersebut sangat besar nilainya di sisi Allah Swt), untuk memastikan anak cucu kita, generasi umat Islam di masa depan, menjadi orang-orang yang berkepribadian Islam yang tinggi.

Analogi di atas hanyalah suatu analogi, tidak bisa selalu disetarakan dengan realita yang sedang dianalogikan dalam segala sisi. Tetapi semoga bisa sedikit menggambarkan bahwa kondisi saat ini berada di dalam lingkaran yang kita kuasai, bisa kita ubah. Apalagi jika kita ingat kembali bahwa sungguh Allah Swt telah menjanjikan kemenangan dan tegaknya kembali Islam di muka bumi. Betapa pertolongan Allah Swt itupun sangat dekat.

Tuesday, 13 March 2012

Ironi Perfilman Indonesia




Belum lama ini tepatnya tanggal 1 Maret 2012 diadakan launching perdana film yang berjudul “Negeri 5 Menara”. Film yang diangkat dari sebuah novel karya Ahmad Fuadi ini banyak disukai oleh para masyarakat khususnya para pembaca novel karena terkenal dengan mantra saktinya man jadda wa jadaa yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh dia akan sukses. Secara singkat film negeri 5 menara ini mengisahkan tentang 6 pemuda belia yang berasal dari daerah yang berbeda. Mereka bertemu di Pesantren Pondok Madani untuk menuntut ilmu dan berusaha menggapai cita-cita mereka. Film ini berpesan kepada kita agar jangan pernah meremehkan impian atau cita-cita. Setinggi apapun impian itu, Allah akan mendengarnya.
Keberadaan film-film Indonesia yang sarat akan makna dan pendidikan seperti film negeri 5 menara atau film lainnya seperti laskar pelangi, alangkah lucunya negeri ini, dan emak ingin naik haji masih jarang diproduksi. Kebanyakan film-film yang beredar di bioskop-bioskop lokal di Indonesia tidak lepas dari tema cinta remaja, pergaulan remaja yang bebas dan bumbu-bumbunya yang berbau seks. Ada pula film yang mengangkat tema agama, misalnya saja sang pencerah yang mengangkat sejarah berdirinya suatu organisasi islam, perempuan berkalung surban hingga Film Tanda Tanya yang menuai kontroversi tidak hanya di kalangan ulama, tetapi juga masyarakat lantaran begitu kental dengan aroma pluralisme. Kontroversi ini kiranya dijadikan strategi promosi tersendiri untuk film tersebut. Bahkan lebih parah lagi, perfilman nasional saat ini juga diramaikan dengan berjamurnya film horor bernuansa seks, semisal Tali Pocong Perawan, Suster Keramas, Pocong Ngesot, Hantu Puncak Datang Bulan, Darah Janda  Kolong Wewe dan yang sejenisnya. Produser film ini berusaha menyuguhkan adegan panas kepada masyarakat dan memperlihatkan eksploitasi tubuh perempuan.
 Dari sederet film-film di atas, kita bisa melihat bahwa film-film yang bermutu dan memberikan pelajaran yang baik untuk kehidupan masih sedikit, kebanyakan adalah film-film yang memberikan contoh yang tidak baik bagi masyarakat terutama remaja. Kebebasan, gaya hidup hedonis dan serba boleh, pornoaksi dan pornografi menjadi sesuatu hal yang diselipkan dalam rangkaian ceritanya. Selain gaya hidup yang liberal, produser film mencoba memasukkan ide-ide pluralism, atheism, dan paham-paham yang notabenenya jauh dari islam. Pemerintah yang dalam hal ini memiliki wewenang untuk melakukan penyeleksian atau sensor terhadap film-film yang hendak di putar selama ini terkesan tidak tegas dalam menjalankan tugasnya sehingga banyak film tidak layak putar lolos dan lulus sensor.
Wajar saja bila masyarakat terutama remaja yang sangat menggemari film-film semacam ini akhirnya mencontoh dan mengikuti apa yang coba disampaikan oleh film-film tersebut tanpa memandang apakah sesuai dengan islam ataukah tidak. Dampaknya yang lebih nyata adalah lahirnya masyarakat dan generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap serba bebas, bergaya hidup hedonis, dan membiarkan kemaksiatan terjadi di sekitar mereka tanpa mereka peduli untuk merubahnya serta menjauhkan masyarakat dari islam. Mereka menyandarkan setiap perbuatan yang dilakukan kepada apa kata film bukan apa kata islam. Padahal, seorang muslim sudah selayaknya menyandarkan segala perbuatannya kepada islam. Karena islam bukanlah agama ritual belaka, namun juga sistem kehidupan yang memiliki aturan kehidupan.
Islam sebagai sebuah pandangan hidup (ideologi) memiliki system aturan yang khas dan unik. Bukan hanya mengatur masalah ibadah ritual saja, namun lebih dari itu mengatur masalah poleksosbudhankam tidak terkecuali masalah perfilman. Islam memandang bahwa hukum seni peran/drama adalah boleh namun dengan syarat yang harus dipenuhi sebelumnya. Menurut Syeikh Ziyad Ghazzal dalam kitabnya Masyru’Qanun Wasa’il Al I’lam (hal 16) menyebutkan ada 5 hal yang harus dipenuhi, yaitu tak ada ikhtilat (campur baur) antara lelaki dan perempuan, tak ada lelaki yang menyerupai perempuan atau sebaliknya, tidak memerankan malaikat, para nabi, para khulafaur rasyidin, istri-istri Rasulullah dan Maryam ibunda nabi Isa, tidak membuat/menggambar makhluk bernyawa, dan yang terakhir adalah tidak menggambarkan kejadian ghaib seperti Hari Kiamat, surga, neraka, dan alam kubur. Dari sisi konten film pun tidak boleh melanggar syariat islam dan haruslah bersifat mendidik.
Khalifah sebagai Kepala Negara akan senantiasa mendorong kaum muslim untuk menghasilkan karya yang berkualitas, baik dari segi performance juga konten cerita. Khalifah akan senantiasa mengawasi produksi film-film dan peredarannya di masyarakat. Khalifah akan mencegah terjadinya peredaran film-film yang bisa merusak akidah, pemikiran dan akhlak kaum muslimin serta memberi sanksi yang tegas kepada pihak yang sengaja memproduksi film dengan tujuan merusak aqidah, pemikiran, dan akhlak kaum muslimin. Wallahu a’lam bishshowwab.





Korean Life Style


Saat ini siapa sih yang ga kenal dengan grup band asal korea Super Junior yang terkenal dengan lagu Mr simplenya atau Shinee dengan Lucifernya, Big Bang dengan Liesnya, dan MBlaq dengan Monalisanya. Belum lagi girl band korea yang saat ini menjadi hitsnya anak-anak remaja bahkan dewasa seperti SNSD, 2NE1, Wonder Girl, dan teman-temannya. Kalo ga kenal, pasti kita dibilang ketinggalan zaman, ga gaul, kuper alias kurang pergaulan. Lebih parah lagi kalo ada yang sampe bilang begini, “ hallloooww kmane aje loh, hari gini ga ngorea”. Kemungkinan itulah kalimat yang bakal nyasar ke kita.
Itu baru ngebicarain grup band korea dan lagu-lagunya yang memang lagi in di kalangan anak muda zaman sekarang. Belum lagi kalo kita ngebicarain tentang sinetron korea yang bukan lagi digilai oleh para remaja, tapi juga dewasa sampe yang berumah tangga. Bukan Cuma anak cewek tapi juga cowok. Bahkan sampe bapak-bapak juga ternyata banyak yang suka. Dari segi ide cerita menarik ditambah dengan aktor-aktrisnya punya tampang yang lumayan bisa bikin air liur kita mengalir perlahan, tangan gemeteran, jantung deg-degan, dan rasanya mau teriak saking imut dan gantengnya para aktor dan aktrisnya. Betul ga? (ayo ngaku).
Boleh diakui memang yang namanya sinetron korea itu punya kelebihan sehingga semua kalangan menyukainya. Pertama, dari ide cerita sangat bervariasi dan tidak membosankan seperti sinetron-sinetron indonesia yang episode ceritanya bisa dicatet di rekor muri. Kedua, kelebihan sinetron korea adalah dari segi pengemasan nilai kehidupan. Artinya, korea mampu mengemas nilai asia yang identik dengan sikap sopan dan santun, menghormati orang tua, dan bekerja keras, dengan cara yang modern. Secara kebanyakan masyarakat sekarang sudah bosan dengan nilai-nilai liberal yang ditawari film-film barat. Di saat masyarakat mulai jenuh dengan itu semua, muncullah film-film korea yang menawarkan sesuatu yang menurut mereka unik, masih mengedepankan nilai moral dan etika serta menyegarkan.
Di televisi kita juga bisa melihat gimana sih gelombang korea atau korean wave atau dalam bahasa koreanya disebut Hallyu ini sangat deras menyambut kita. Mulai dari acara musik semisal music bang dan K-POP yang nampilin lagu apa yang lagi ngehits di blantika musik korea dalam dan luar negeri, acara pemilihan boy dan girl band sampe berita-berita selebritis korea ga kalah diputar di stasiun tv kita. Tidak hanya satu stasiun tv saja yang menayangkan hal-hal berbau korea, sebut saja Indosiar, trans7, O-channel, B-channel, dan beberapa stasiun tv lainnya.
Korean wave atau hallyu ini bisa dibilang sudah memberikan dampak yang besar terhadap perubahan gaya hidup masyarakat indonesia, khususnya para remaja. Disadari atau tidak, melalui film dan musik, korea hendak memasarkan kebudayaan dan kebiasaan mereka. Lihat saja para remaja kita saat ini, dari segi pakaian, mereka meniru cara berpakaian para artis korea yang menggunakan rok mini atau celana mini dengan jaket berbulu ditambah kaos kaki yang menutupi hingga pahanya. Soal makanan pun sama, remaja sekarang lebih suka membeli mie ramen daripada sarimi dan lebih keren kalo udah pernah makan yang namanya kimbab, kimchi, bulgogi, dan mungkin sampe minum soju (arak beras khas korea). Bahasa korea juga menjadi populer setelah munculnya korean wave ini. Kini bisa kita lihat banyak sekali lembaga kursus yang menawarkan bahasa korea sebagai salah satu pilihannya. Banyak mahasiswa yang tertarik untuk ikut pertukaran pelajar ke korea atau ke korea hanya untuk liburan semata. Bahkan ada yang merubah keinginannya dari mencari suami khas betawi ala jawa menjadi suami khas korea atau setidaknya mirip-miriplah sama orang korea.   
Walhasil, para remaja kita dan sebagian besar masyarakat cenderung mengikuti tren korea yang ada sekarang. Namun pertanyaan, apa sih sebenarnya yang ada dibalik fenomena Hallyu ini? Knapa korea bisa memberikan pengaruh yang luar biasa, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri? Apakah ada kemungkinan fenomena ini didukung oleh ideologi yang sedang mencengkram dunia ini?
Dalam politik internasional, posisi korea selatan memiliki peran yang strategis. Selain sebagai Negara maju yang terkenal dengan teknologinya juga perannya sebagai Negara satelit dari Negara adidaya saat ini, yaitu Amerika. Negara satelit merupakan Negara yang mengadopsi kepentingan Negara adidaya (Negara utama), dalam hal ini korea selatan mengadopsi kepentingan Negara adidaya untuk wilayah asia timur-tenggara. Jadi sudah sewajarnya juga bila korea selatan mengadopsi ideology yang sama dengan yang diemban oleh Amerika.
Korea selatan dengan industry hiburan dan pariwisatanya mencoba untuk menyebarkan apa yang menjadi kepentingannya. Sama halnya dengan Amerika, korea selatan juga menggunakan 4F, yaitu food, fashion, film, dan fun dalam melebarkan sayapnya ke seluruh penjuru asia dan bahkan dunia. Ditambah media massa baik elektronik maupun cetak turut mempermudah penyebarannya sehingga dapat dilihat bahwa peran media besar sekali dalam hal ini. Melalui dunia hiburannya, korea selatan mampu memasarkan produk-produk yang dihasilkannya mulai dari barang elektronik seperti hp dengan merek yang cukup populer di Indonesia (LG dan Samsung), jaket ala korea dan pakaian mini yang biasa digunakan artis-artis korea, kosmetika ala korea, dan juga makanan khas korea yang diperkenalkan melalui film tersebut seperti mie ramyun, bulgogi, kimchi, kimbab, bibimbab dan lain sebagainya. Belum lagi lagu-lagu soundtrack film yang ear-catching dan lagu K-POP yang saat ini banyak di download oleh penggemar korea.
Selain itu, korea juga berhasil memasarkan nilai-nilai yang menjadi kebudayaannya, seperti liberalisme, hedonisme, dan permissivisme. Kita bisa melihat bagaimana para remaja kita mulai mengikuti mode korea terkini dan rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk bisa mengikuti konser music yang mendatangkan bintang-bintang korea. Dari sisi pergaulan, mereka hendak mengajak para remaja kita untuk lebih bebas berteman dengan siapa saja tanpa batasan, pacaran, dan sampai pada pergaulan bebas yang tidak lepas dari pegangan tangan, ciuman, dan bahkan berhubungan intim. Intinya kebudayaan menjadi isu penting dalam globalisasi budaya korea karena didalamnya mengandung nilai-nilai dan ideology barat seperti kebebasan, gaya hidup berhura-hura dan serba boleh. Dari sini kita bisa melihat bahwa apa yang ada dibalik fenomena Hallyu atau Korean wave ini tiada lain adalah perpanjangan tangan dari penyebaran ideology barat yang merusak.
Sebenarnya bila kita sekedar melihat film dan menyukai lagu-lagunya sebagai hiburan, itu tidak menjadi masalah atau boleh-boleh saja. Tapi jangan sampai kita menjadi kecanduan dan bahkan menjadikan nilai-nilai liberal, hedon dan permissive tadi menjadi gaya hidup kita. Sebagai seorang muslim sudah selayaknyalah kita mengambil gaya hidup hanya dari islam saja. Karena islam datang sudah dalam bentuk sempurna yang peraturannya meliputi seluruh bidang kehidupan. Jadi, seharusnya kita bangga dengan identitas keislaman kita dan tidak perlu meniru-niru gaya hidup bangsa lain yang jauh dari nilai-nilai islam. Allah berfirman dalam suran Al Israa ayat 36, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui apapun tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati akan dimintai pertanggungjawabannya.”






Sunday, 11 March 2012

Sorot Reportase

Syabab.Com - Konferensi Pers International Women Conference(IWC) dimulai pukul 09.15 waktu setempat. Konferensi dibuka dengan pembacaan Pernyataan Pers IWC dalam bahasa Arab dan Inggris. Dijelaskan, Konferensi bertujuan mengakhiri kebohongan yang selama ini dipublikasikan secara luas oleh media barat. Seakan-akan perempuan muslim menolak penerapan syariah. Padahal,  faktanya perempuan muslim di berbagai penjuru dunia sedang menuntut perubahan hakiki. Para muslimah menyadari sistem demokrasi dan kediktatoran telah gagal menyelesaikan problem perempuan, juga tak mampu memberi jaminan kehormatan dan kesejahteraan bagi perempuan. 
Konferensi ini juga menegaskan bahwa inilah saatnya membela dan memperjuangkan tegaknya sistem khilafah. Sebuah model pemerintahan yang unik yang konstitusinya bersumber dari Allah SWT yang Maha Baik. Sistem ini juga menetapkan pemimpinnya melalui pemilihan oleh rakyat baik laki-laki maupun perempuan. Penguasanya bisa dikoreksi oleh rakyatnya,  baik laki-laki maupun perempuan. Sistem yang memberi jaminan kehormatan bagi perempuan.
Kalangan media lokal dan internasional menyimak serius pernyataan  penyelenggara IWC. Tak kurang radio Tunisi, TWT TV , Aljazeera, Associated Press, AFP, French International Radio dan berbagai media lokal berpartisipasi  dalam  konferensi pers ini . Pertanyaan dinamis banyak terlontar seputar kedudukan perempuan di bawah lindungan khilafah, hubungan IWC dengan Arab Spring, juga tentang metode HT menegakkan khilafah,
Sementara itu  ada dua pertanyaan yang disampaikan ke jubir Muslimah HTI, Iffah Ainur Rochmah . Pertama tentang respons kaum perempuan Indonesia terhadap seruan penegakan khilafah. Kedua tentang pesan khusus kehadiran delegasi Indonesia pada IWC. Jubir Muslimah HT Indonesia menjelaskan perempuan Indonesia yang jumlahnya mencapai 100 juta sama dengan perempuan di berbagai penjuru dunia. Mereka membutuhkan perubahan hakiki, mereka hidup dalam penderitaan akibat sistem kapitalisme. “Alhamdulillah, lewat interaksi dengan HT mereka menyadari perubahan hakiki bisa diraih dengan menegakkan khilafah,”ujarnya.
Delegasi MHTI juga menjelaskan perempuan muslim Indonesia dari berbagai kalangan mulai pelajar hingga akademisi, pengusaha, serta muballighah merindukan segera tegaknya khilafah. Selain memperjuangkan terwujudkan opini umum tentang Islam di dalam negeri.
Melalui konferensi ini, Iffah Ainur Rochmah  mengingatkan kepada semua tentang pentingnya syariah dan Khilafah. “Hanya  dengan menerapkan syariat dan khilafah  kemakmuran bisa diperoleh, kehormatan perempuan terjaga tanpa melarangnya berkontribusi di tengah masyarakat sesuai syariat,” tegasnya.  (dari La Palace Hotel Gammareth Tunis, Tunisia Sabtu 10 Maret 2012). [htipress/syabab.com]
Silakan klik link berikut untuk melihat video streaming: